Selasa, 27 Maret 2012

Akhwat Tahan Banjir

Apakah anda tersenyum membaca judul di atas?. Jika iya, sama denganku. Ketika  menulis judul itu aku pun tertawa geli. Setiap mengenang kisah ini, aku selalu tergelitik untuk tersenyum. Ini adalah sepenggal kisah perjalanan tarbiyah seorang akhwat di kos-kosan.
Aku adalah seorang akhwat yang mengikuti tarbiyah. Dan aku mempunyai "komunitas akhwat” yang aktif mengelola kos-kosan akhwat di lingkungan kampus. Dua tahun yang lalu, karena kontrak kos-kosan yang lama habis, kami pindah di tempat kos baru yang lebih dekat dengan kampus. Subhanalloh, secara fasilitas kos-kosan kami yang baru lebih baik jika dibandingkan dengan kos-kosan yang lama. Ditambah pemilik kosan kami yang baru adalah ummahat dari harakah yang sama, sehingga untuk mengelolanya pun jauh lebih mudah.
Kosan kami yang baru diberi nama “Griya Mar’ah Sholihah” oleh dua orang mbak yang ngajinya lebih dulu dariku. Awalnya ketika aku mendengar nama “Griya Mar’ah Sholihah” agak gimana gitu, karena aku pikir apa tidak terlalu kePEDEan? lagian kalo ditanya orang pasti jawabnya panjang banget, dan biasanya kos-kosan akhwat komunitas kami dari jaman ke jaman lebih sering memakai nama-nama shahabiyah. Kata seorang mbaksis “Griya Mar’ah Sholihah” adalah sebuah do’a, dengan harapan semoga penghuninya bisa menjadi akhwat yang sholehah. Akhirnya dipakailah sekarang nama itu dan populer dengan singkatan “GMS”, walau terkadang orang lain suka salah-salah sebut seperti GSM, SGM, MSG, dan entah apa lagi...
Kosan kami ada enam kamar. Setiap kamar diisi dua orang, jadi kosan kami dihuni oleh dua belas akhwat. Masing-masing dari berbagai jurusan kuliah semester satu, tiga, lima dan tujuh. Subhanalloh, ketika kami pindah kami sangat bersyukur. Dari beberapa kos-kosan akhwat yang pernah kami huni, GMS merupakan kosan kami yang paling strategis. Fasilitas kos cukup baik, dekat dengan kampus, di depan kos juga banyak warung makan, dekat dengan laundry, tempat fotocopy, warnet, warung pulsa, dan mini market.
Beberapa bulan pertama menghuni GMS, mas’ul (koordinator kos) yang lama mendapat amanah mengelola kos akhwat di tempat lain, sehingga ada pergantian mas’ul yang baru. Karena aku yang paling tua dan kebetulan sudah wisuda maka aku diberi amanah menjadi mas’ul di GMS. Beberapa bulan mengelola GMS tidak mengalami kendala yang berarti. Program-program kos terlaksana dengan baik. Hubungan antar penghuni pun sangat baik. Interaksi kami dengan tetangga kos sudah mulai akrab. Benar-benar kos yang nyaman kami rasakan.
            Suatu ketika aku mudik ke rumah. Di kos masih ada beberapa adik angkatan yang tidak mudik. Aku meminta kepada mereka untuk menjaga kos dengan hati-hati dan mereka akan segera menghubungiku jika terjadi sesuatu di kos. Saat itu musim hujan. Di luar dugaan, kosan kami mengalami kebanjiran. Aku mengetahui hal itu karena mereka mengirim sms kepadaku. Awalnya aku cukup kaget, wilayah kampus kami jauh dari sungai besar sehingga tidak terfikirkan jika kos kami akan mengalami kebanjiran.
            Ternyata, penyebab banjir adalah karena pondasi bangunan kosan kami lebih rendah dibandingkan dengan bangunan-bangunan lain di sekitarnya. Ditambah selokan samping kos tidak cukup menampung air hujan sehingga air meluap ke dalam kos. Bukan banjir besar sebenarnya, karena tinggi air yang masu ke kos cuma 25 cm dan itupun air luapan dari selokan. Kami lebih sering menyebutnya “banjir GMS”, karena di seluruh lingkungan kami yang mengalami banjir hanya kosan kami.
            Itu adalah banjir pertama. Alhamdulillah barang-barang di kos bisa diselamatkan. Yang membuatku khawatir adalah mengenai kenyamanan adik-adik penghuni baru di kosan kami khususnya anak semester satu. Tidak banyak anak kampus yang bersedia ngekos di kos-kosan akhwat yang terkenal dengan super duper ketatnya aturan kos. Jika kondisi GMS sering banjir pasti akan membuat anak baru tidak betah dan aku khawatir mereka akan pindah ke kos lain. Perlu penanganan ekstra untuk menghibur mereka supaya mereka memahami bahwa banjir kos ini adalah ujian dalam perjalanannya menjadi seorang akhwat.
            Selanjutnya, setiap hujan turun semua penghuni GMS akan siaga. Bagi yang ada di kos akan sibuk mengangkat barang-barang di atas tempat yang lebih tinggi seperti ranjang, meja, dan kursi. Setiap pintu akan dijaga, dibawah pintu harus diganjal kain untuk menahan air supaya tidak masuk. Siap-siap gotong-royong membersihkan lumpur dan ngepel lantai  jika air masuk kos. Biasanya butuh waktu dua sampai tiga jam untuk bersih-bersih lantai sampai kering.
Karena seringnya banjir yang kami alami, rutinitas ngepel bersama jadi hal yang biasa. Tidak ada rasa kesedihan lagi jika ternyata banjir datang. Justru sambil ngepel kami tertawa-tawa girang. Entah sebatas usaha menghibur diri atau karena memang sudah memahami bahwa ujian banjir di kosan hanya kami yang mengalami di kampus ini. Biasanya setelah ngepel kami akan kelaparan. Acara makan bersama akan sangat nikmat kami rasakan.
Bukannya kami tidak mau mencari kosan lain yang bebas banjir, tapi karena mencari ibu kos yang faham ngaji cukup sulit. Berbagai usaha sudah dilakukan oleh ibu kos untuk mengatasi banjir. Seperti membuat tanggul di depan kos, semacam tembok penghalang air. Cuma terkadang masih saja air akan tetap masuk jika hujan yang turun sangat deras.
Suatu ketika aku pulang kerja. Saat itu hujan deras dan aku masih dalam perjalanan pulang menuju kos. Otomatis, aku langsung berpikir kali ini kos pasti banjir lagi. Mau ngebut tapi air hujan menutupi jalan cukup tinggi sehingga susah untuk laju sepeda motor. Benar juga, air di gang yang menuju ke arah kosku lebih tinggi dari biasanya. Kuparkir motor di depan minimarket dekat kos. Aku jalan santai menyebrangi air yang ada di gang. Sampai depan kos aku duduk dan mengamati air selokan. 
Setelah satu menit duduk, aku bangun dan ketok-ketok pintu. Aku pikir pasti di dalam kos rame sedang ngepel. Tapi aku malah merasakan sesuatu yang janggal, kenapa kos malah terlihat sepi atau mungkin karena semua sedang kuliah. Kuketok pintu beberapa kali tidak ada yang menyahut, akhirnya aku masuk kos karena pintu tidak terkunci. Wow, air sudah menggenangi seluruh kos. Jemuran di lantai sudah basah, kasur-kasur, buku-buku, dan ada dua laptop di lantai sudah tergenang air. Kubuka seluruh pintu kamar ternyata ada dua adik kos yang sedang tidur dan tidak menyadari jika hujan turun dan air selokan telah meluap.
              Dengan gesit kami bertiga membereskan barang-barang yang masih bisa diselamatkan.  Sungguh banjir GMS merupakan ujian sekaligus berkah buat kami. Karena benjir kami dekat. Karena banjir kami merasa saling memiliki. Karena banjir ukhuwah kami teruji. Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu berkata: Kebaikan yang tiada kejelekan padanya adalah bersyukur ketika sehat wal afiat, serta bersabar ketika diuji dengan musibah. Betapa banyak manusia yang dianugerahi berbagai kenikmatan namun tiada mensyukurinya. Dan betapa banyak manusia yang ditimpa suatu musibah akan tetapi tidak bersabar atasnya.” (Mawa’izh Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri, hal. 158)




Tidak ada komentar:

Posting Komentar