Apakah anda tersenyum
membaca judul di atas?. Jika iya, sama denganku. Ketika menulis judul itu
aku pun tertawa geli. Setiap mengenang kisah ini, aku selalu tergelitik untuk
tersenyum. Ini adalah sepenggal kisah perjalanan tarbiyah seorang akhwat di
kos-kosan.
Aku adalah seorang akhwat
yang mengikuti tarbiyah. Dan aku mempunyai "komunitas akhwat” yang aktif
mengelola kos-kosan akhwat di lingkungan kampus. Dua tahun yang lalu, karena
kontrak kos-kosan yang lama habis, kami pindah di tempat kos baru yang lebih
dekat dengan kampus. Subhanalloh, secara fasilitas kos-kosan kami yang baru
lebih baik jika dibandingkan dengan kos-kosan yang lama. Ditambah pemilik kosan
kami yang baru adalah ummahat dari harakah yang sama, sehingga untuk
mengelolanya pun jauh lebih mudah.
Kosan kami yang baru diberi
nama “Griya Mar’ah Sholihah” oleh dua orang mbak yang ngajinya lebih dulu
dariku. Awalnya ketika aku mendengar nama “Griya Mar’ah Sholihah” agak gimana
gitu, karena aku pikir apa tidak terlalu kePEDEan? lagian kalo ditanya orang
pasti jawabnya panjang banget, dan biasanya kos-kosan akhwat komunitas kami
dari jaman ke jaman lebih sering memakai nama-nama shahabiyah. Kata seorang
mbaksis “Griya Mar’ah Sholihah” adalah sebuah do’a, dengan harapan semoga
penghuninya bisa menjadi akhwat yang sholehah. Akhirnya dipakailah sekarang
nama itu dan populer dengan singkatan “GMS”, walau terkadang orang lain suka
salah-salah sebut seperti GSM, SGM, MSG, dan entah apa lagi...
Kosan kami ada enam kamar.
Setiap kamar diisi dua orang, jadi kosan kami dihuni oleh dua belas akhwat.
Masing-masing dari berbagai jurusan kuliah semester satu, tiga, lima dan tujuh.
Subhanalloh, ketika kami pindah kami sangat bersyukur. Dari beberapa kos-kosan
akhwat yang pernah kami huni, GMS merupakan kosan kami yang paling strategis.
Fasilitas kos cukup baik, dekat dengan kampus, di depan kos juga banyak warung
makan, dekat dengan laundry, tempat fotocopy, warnet, warung pulsa, dan mini
market.
Beberapa bulan pertama menghuni
GMS, mas’ul (koordinator kos) yang lama mendapat amanah mengelola kos akhwat di
tempat lain, sehingga ada pergantian mas’ul yang baru. Karena aku yang paling
tua dan kebetulan sudah wisuda maka aku diberi amanah menjadi mas’ul di GMS.
Beberapa bulan mengelola GMS tidak mengalami kendala yang berarti.
Program-program kos terlaksana dengan baik. Hubungan antar penghuni pun sangat
baik. Interaksi kami dengan tetangga kos sudah mulai akrab. Benar-benar kos
yang nyaman kami rasakan.
Suatu ketika aku mudik ke rumah. Di kos masih ada beberapa adik angkatan yang
tidak mudik. Aku meminta kepada mereka untuk menjaga kos dengan hati-hati dan
mereka akan segera menghubungiku jika terjadi sesuatu di kos. Saat itu musim
hujan. Di luar dugaan, kosan kami mengalami kebanjiran. Aku mengetahui hal itu
karena mereka mengirim sms kepadaku. Awalnya aku cukup kaget, wilayah kampus
kami jauh dari sungai besar sehingga tidak terfikirkan jika kos kami akan
mengalami kebanjiran.
Ternyata, penyebab banjir adalah karena pondasi bangunan kosan kami lebih
rendah dibandingkan dengan bangunan-bangunan lain di sekitarnya. Ditambah
selokan samping kos tidak cukup menampung air hujan sehingga air meluap ke
dalam kos. Bukan banjir besar sebenarnya, karena tinggi air yang masu ke kos
cuma 25 cm dan itupun air luapan dari selokan. Kami lebih sering menyebutnya
“banjir GMS”, karena di seluruh lingkungan kami yang mengalami banjir hanya
kosan kami.
Itu adalah banjir pertama. Alhamdulillah barang-barang di kos bisa
diselamatkan. Yang membuatku khawatir adalah mengenai kenyamanan adik-adik
penghuni baru di kosan kami khususnya anak semester satu. Tidak banyak anak
kampus yang bersedia ngekos di kos-kosan akhwat yang terkenal dengan super
duper ketatnya aturan kos. Jika kondisi GMS sering banjir pasti akan membuat
anak baru tidak betah dan aku khawatir mereka akan pindah ke kos lain. Perlu
penanganan ekstra untuk menghibur mereka supaya mereka memahami bahwa banjir
kos ini adalah ujian dalam perjalanannya menjadi seorang akhwat.
Selanjutnya, setiap hujan turun semua penghuni GMS akan siaga. Bagi yang ada di
kos akan sibuk mengangkat barang-barang di atas tempat yang lebih tinggi
seperti ranjang, meja, dan kursi. Setiap pintu akan dijaga, dibawah pintu harus
diganjal kain untuk menahan air supaya tidak masuk. Siap-siap gotong-royong
membersihkan lumpur dan ngepel lantai jika air masuk kos. Biasanya butuh
waktu dua sampai tiga jam untuk bersih-bersih lantai sampai kering.
Karena seringnya banjir yang
kami alami, rutinitas ngepel bersama jadi hal yang biasa. Tidak ada rasa
kesedihan lagi jika ternyata banjir datang. Justru sambil ngepel kami
tertawa-tawa girang. Entah sebatas usaha menghibur diri atau karena memang
sudah memahami bahwa ujian banjir di kosan hanya kami yang mengalami di kampus
ini. Biasanya setelah ngepel kami akan kelaparan. Acara makan bersama akan
sangat nikmat kami rasakan.
Bukannya kami tidak mau
mencari kosan lain yang bebas banjir, tapi karena mencari ibu kos yang faham
ngaji cukup sulit. Berbagai usaha sudah dilakukan oleh ibu kos untuk mengatasi
banjir. Seperti membuat tanggul di depan kos, semacam tembok penghalang air.
Cuma terkadang masih saja air akan tetap masuk jika hujan yang turun sangat
deras.
Suatu ketika aku pulang kerja.
Saat itu hujan deras dan aku masih dalam perjalanan pulang menuju kos.
Otomatis, aku langsung berpikir kali ini kos pasti banjir lagi. Mau ngebut tapi
air hujan menutupi jalan cukup tinggi sehingga susah untuk laju sepeda motor.
Benar juga, air di gang yang menuju ke arah kosku lebih tinggi dari biasanya.
Kuparkir motor di depan minimarket dekat kos. Aku jalan santai menyebrangi air
yang ada di gang. Sampai depan kos aku duduk dan mengamati air selokan.
Setelah satu menit duduk,
aku bangun dan ketok-ketok pintu. Aku pikir pasti di dalam kos rame sedang
ngepel. Tapi aku malah merasakan sesuatu yang janggal, kenapa kos malah
terlihat sepi atau mungkin karena semua sedang kuliah. Kuketok pintu beberapa
kali tidak ada yang menyahut, akhirnya aku masuk kos karena pintu tidak
terkunci. Wow, air sudah menggenangi seluruh kos. Jemuran di lantai sudah
basah, kasur-kasur, buku-buku, dan ada dua laptop di lantai sudah tergenang
air. Kubuka seluruh pintu kamar ternyata ada dua adik kos yang sedang tidur dan
tidak menyadari jika hujan turun dan air selokan telah meluap.
Dengan gesit kami bertiga membereskan barang-barang yang masih bisa
diselamatkan. Sungguh banjir GMS merupakan ujian sekaligus berkah buat
kami. Karena benjir kami dekat. Karena banjir kami merasa saling memiliki.
Karena banjir ukhuwah kami teruji. Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu
berkata: Kebaikan yang tiada kejelekan padanya adalah bersyukur ketika sehat
wal afiat, serta bersabar ketika diuji dengan musibah. Betapa banyak manusia
yang dianugerahi berbagai kenikmatan namun tiada mensyukurinya. Dan betapa
banyak manusia yang ditimpa suatu musibah akan tetapi tidak bersabar atasnya.”
(Mawa’izh Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri, hal. 158)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar