Selasa, 27 Maret 2012

Yang Berguguran di Jalan Dakwah

Saat itu hujan deras. Aku bimbang di kamar kos, antara menunggu hujan reda atau nekad menerjang hujan yang sedang turun begitu riuhnya. Lima belas menit berlalu, namun petir tetap tak bersahabat. Di saat badanku mengalami kelelahan yang sangat aku harus tetap pergi walau badan diguyur dinginnya air hujan. Hanya kata “sami’na wa ata’na” yang ada dipikiranku saat itu. Ya, pergi untuk menepati undangan dari sang murabbi, dimana hari sebelumnya beliau sms memintaku datang pada dua acara hari ini. Acara pertama jam lima sore dan acara kedua ba’da isya. Katanya, ada hal penting yang perlu beliau sampaikan kepadaku dan semua temanku satu halaqah.
Pelan-pelan aku keluarkan motor dari kos, berharap hujan segera reda walau kenyataannya hujan tetap turun deras. Dalam perjalanan seorang diri disertai guyuran air hujan aku terus berpikir tentang hal apa kira-kira yang akan disampaikan murabbi kepada kami. Sekitar jam lima kurang lima menit aku sampai di tempat yang dijanjikan, tapi tak ada satu pun temanku di tempat itu. Aku duduk di samping motor dan termenung sesaat. Otak bingung, perut lapar, baju basah, dan letihnya badan karena hari itu aku baru datang dari luar kota, sungguh aku rasakan badan lapar dan pegal-pegal campur aduk jadi satu.
            Kurogoh-rogoh tas mencari ponsel dan kuhubungi murabbiku, beliau bilang karena masalah teknis ternyata tempat acara pertama kami sore itu pindah ke tempat lain. Aku sempat bertanya-tanya dalam hati, tak biasanya tempat janjian kami berubah secepat ini. Tapi sudahlah, aku bergegas mengemudikan motor menuju tempat pertemuan yang dimaksud. Lima belas menit kemudian aku sampai lokasi, kuparkir motor pelan-pelan dan kuamati motor yang parkir di tempat ini kok banyak sekali tidak seperti biasa saat halaqah tiap pekan. Daripada semakin banyak pertanyaan yang muncul dan membuat kepala makin pusing, aku langsung masuk lokasi dan menyapa teman-teman yang sudah hadir lebih dulu. Ternyata yang datang di majelis ini bukan saja teman dari satu halaqahku, tapi ada juga beberapa mbak-mbak yang ngajinya lebih dulu (sebut saja senior). Setelah kuhitung ada lima belas akhwat yang hadir di majelis ini. Dan, masih saja aku belum tahu jelas hal apa yang akan dibahas pada pertemuan ini.
            Sebelum acara dimulai, sejenak kami bersenda gurau seperti biasa ala akhwat pada umumnya. Menanyakan kabar masing-masing ikhwah dan berbincang-bincang santai. Kelompok halaqahku memang rata-rata dari akhwat usia kuliah tingkat akhir jadi tema yang dibahas pun seringnya mengenai skripsi yang begitu sulitnya diselesaikan, masalah pekerjaan, dan ada juga yang curhat mengenai desakan orang tua untuk menikah.
            Tak terasa jam menunjukkan pukul 17.45 WIB. Kami duduk lesehan melingkar seperti acara halaqah biasa. Karena hampir maghrib, murabbiku langsung membuka acara dengan bacaan basmallah. Lalu beliau menyampaikan sedikit kalimat pengantar perihal mengumpulkan kami sore itu. Katanya, “Ada satu teman antunna di halaqah ini yang akan menyampaikan sesuatu kepada kalian, silahkan didengarkan dengan baik dan ambil hikmahnya dari kejadian ini,....”.
            Karena suasana terasa kaku dan mulai tegang kutatap satu-satu wajah teman-temanku. Kuamati dengan teliti, berharap bisa menterjemahkan raut wajah mereka yang sama-sama terlihat bingung. Macam-macam pertanyaan berkecamuk di hatiku. Ada apakah ini?, siapa yang akan menyampaikan sesuatu?, sesuatu apa?. Kuterka-terka di antara semua teman-temanku, siapa kira-kira yang sedang mengalami masalah. Namun aku takut su’udzon, akhirnya kutundukkan pandangan dengan pasrah menunggu suara siapa yang akan terdengar nanti.
            Semua terdiam, suasana hening seketika. Sambil terisak terdengar suara dari ukhti (sebut saja ukhti A), “Teman-teman, afwan aku telah mengecewakan antunna. Aku telah menghianati harakah kita. Aku telah menorehkan fitnah dalam dakwah. Aku telah mengambil keputusan yang berseberangan dengan keyakinanku selama ini. Aku telah menerima khitbah seorang laki-laki yang bukan dari satu harakah, malah dia belum aktif ngaji. Sebentar lagi aku akan menikah dengan laki-laki pilihanku itu. Aku telah memilih jalan yang tidak sesuai jalur harakah kita, maka aku akan menerima semua konsekuensi yang harus aku tanggung nantinya. Mohon kalian jangan ikuti langkahku….”. Kurang lebih itulah sepenggal kalimat yang disampaikan ukhti A kepada kami. Tak kuat menahan tangis, dia menghentikan kalimatnya dan terdiam. Kebetulan adzan maghrib pun saat itu berkumandang.           
            Kuhela nafas dalam-dalam. Entahlah, saat itu otakku terasa panas. Bingung tak bisa berpikir apapun. Temanku yang begitu aku percaya menjaga hatinya dengan mudahnya berubah. Sungguh Alloh yang Maha membolak-balikkan hati. Kuteteskan air mata saat itu, teringat akan kealpaan diri. Kejadian ini merupakan pelajaran besar buat kami. Teman-teman yang lain pun terlihat sangat terkejut, namun kami hanya saling tatap tak mengeluarkan sepatah katapun.
Setelah adzan selesai, murabbiku memberikan pengertian kepada kami dengan bijaksana. Beliau memberikan motivasi supaya kami tetap fokus dalam dakwah dan tidak larut berlebihan menyikapi kejadian ini. Alhamdulillah suasana acara sudah cukup stabil walau masih ada sedikit ketegangan. Kami semua yang menghadiri acara ini merupakan kader yang telah mencapai tingkat loyal dalam harakah. Sehingga kami telah  memahami, ketika terjadi pelanggaran dalam menapaki alur harakah maka harus dilakukan pengakuan semacam ini sebagai bentuk pertanggungjawaban seorang kader terhadap harakahnya. Pastinya, pengakuan ini harus difahami bukan sebagai bentuk jebakan karena loyalitas seorang kader harus dilakukan atas dasar kesadaran.
Akhirnya acara ditutup dan dilanjutkan sholat maghrib berjamaah. Sebelum sholat maghrib kuhampiri ukhti A. Kupeluk dia erat-erat. Dia mengucapkan kata “afwan” dan dia menangis di pundakku seakan ingin mengeluarkan segala kegalauannya. Kubisikkan kalimat kepadanya: “Alloh tidak akan memberikan ujian melebihi kekuatan hamba-Nya, tetaplah berjuang ukhti!”.
Setelah selesai sholat maghrib ada satu lagi agenda yang harus aku dan teman-temanku datangi malam ini seperti yang dijanjikan murabbiku yaitu acara kedua. Cepat-cepat kami meluncur ke lokasi selanjutnya. Biasa, aku pun tidak tahu pasti hal apa yang akan dibahas di acara kedua ini. Cuaca masih gerimis. Bajuku masih basah karena kehujanan tadi sore, sungguh tubuhku kurasakan dingin menggigil. Namun, aku hanya berfikir ingin segera menyelesaikan semua agenda hari ini dan aku bergegas mempercepat laju sepeda motorku. Wush…
Waktu hampir isya, kami sampai di lokasi kedua. Ada lima belas akhwat yang hadir, namun ada beberapa personil yang berubah dari acara pertama. Sudah kutebak, acara kedua ini kasusnya sama dengan acara pertama. Sempat salah satu teman membisikkan kepadaku bahwa ada satu lagi teman kami yang mengalami kasus serupa.
Di luar masih saja gerimis, dan acara kedua dimulai. Walau tak setegang seperti pada acara pertama, namun aku rasakan suasana majelis ini tetap terasa mistis bin horor. Kupegang dengan erat tangan temanku yang duduk disebelahku, berniat saling menenangkan hatinya dan juga hatiku yang bergemuruh. Kusiapkan hati untuk mendengar pernyataan seorang ukhti yang akan menyampaikan pengakuannya. Ya, sama. Sama seperti acara pertama. Temanku satu lagi (sebut saja ukhti B), sambil menangis menyampaikan kepada kami bahwa dia juga sudah menerima khitbah seorang ikhwan dari harakah lain. Dan keputusan yang dia ambil pun sama persis seperti kasus yang pertama yaitu tidak melalui pertimbangan murabbi. Beberapa kata ia sampaikan, namun suaranya terdengar tidak begitu jelas. Sudahlah, pikirku. Semakin banyak kalimat yang dia sampaikan, akan semakin banyak hati yang tersakiti.
Acara kedua selesai dengan cepat. Tak banyak hal yang terjadi saat itu. Kami saling diam. Kuhela nafas, berharap kekecewaan yang aku rasakan saat itu enyah seketika. Kuingin segera pulang ke kos menenangkan diri. Butuh waktu lama untuk mengobati luka ini. Dua hal yang sama terjadi secara bersamaan membuat kami sangat terpukul. Bagi seorang aktivis seperti kami, kejadian ini merupakan ujian dan pelajaran berharga. Kami berharap semoga kejadian ini bisa menjadi bahan evaluasi bagi harakah kami, mengenai sistem tarbiyah maupun sistem amniah perjuangan.
Aku teringat sebuah kalimat yang dikirim seorang teman melalui sms kepadaku, bunyinya: “Yang berguguran di jalan dakwah, akan menjadi sampah sejarah. Sungguh itu bukan hal yang sepele di mata kami. Dan teringat penggalan sebuah hadits Nabi saw: ”Barangsiapa yang berhijrah karena dunia yang akan ia peroleh atau wanita yang hendak dinikahinya, maka ia akan mendapati apa yang ia tuju.” (HR. Buhari-Muslim). Hadits ini mengingatkanku untuk selalu berdoa, semoga kami istiqomah memegang panji perjuangan dan lulus uji dari segala macam fitnah.
Bagi ikhwah yang sudah loyal di satu harakah, hendaknya memahami bahwa dalam berharakah dituntut untuk bisa mentaati aturan organisasi (harakah tersebut). Karena mentaati pimpinan dan ikut serta berjuang dalam dakwah adalah suatu keharusan bagi seorang aktivis. Pun, ketika ada harakah yang sangat ketat dalam aturannya mengenai aturan perjodohan itu bukanlah tanpa tujuan. Jika aktivis suatu harakah menikah dengan aktivis dari harakah yang sama, diharapkan jumlah kader akan semakin bertambah. Dengan pola membiakkan keluarga, sebuah harakah berharap kadernya tidak terpencar-pencar sehingga mampu menghimpun kekuatan yang stabil.
Akhirnya, selamat jalan kedua temanku. Dalam hidup, memang banyak pilihan. Dan semua pilihan hidup pasti mempunyai resiko. Kisah ini tidak bermaksud untuk memojokkan pihak tertentu. Namun, banyak ilmu yang aku peroleh dari kejadian ini. Semoga kisah ini bisa dijadikan sebagai bahan untuk saling mengingatkan dalam kesabaran dan saling mengingatkan dalam kebenaran. Serta sebagai bahan evaluasi untuk kita dan dapat diambil ibrahnya. Aamiin.. Wallahu’alam bissowab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar