Saat itu hujan
deras. Aku bimbang di kamar kos, antara menunggu hujan reda atau nekad
menerjang hujan yang sedang turun begitu riuhnya. Lima belas menit berlalu,
namun petir tetap tak bersahabat. Di saat badanku mengalami kelelahan yang
sangat aku harus tetap pergi walau badan diguyur dinginnya air hujan. Hanya kata
“sami’na wa ata’na” yang ada dipikiranku saat itu. Ya,
pergi untuk menepati undangan dari sang murabbi, dimana hari sebelumnya beliau
sms memintaku datang pada dua acara hari ini. Acara pertama jam lima sore dan acara kedua ba’da
isya. Katanya, ada hal penting yang perlu beliau sampaikan kepadaku dan semua
temanku satu halaqah.
Pelan-pelan aku
keluarkan motor dari kos, berharap hujan segera reda walau kenyataannya hujan tetap turun deras.
Dalam perjalanan seorang diri disertai guyuran air hujan aku terus berpikir
tentang hal apa kira-kira yang akan disampaikan murabbi kepada kami. Sekitar jam
lima kurang lima menit aku sampai di tempat yang dijanjikan, tapi tak ada satu
pun temanku di tempat itu. Aku duduk di samping motor dan termenung sesaat.
Otak bingung, perut lapar, baju basah, dan letihnya badan karena hari itu aku baru
datang dari luar kota, sungguh aku rasakan badan lapar dan pegal-pegal campur aduk jadi satu.
Kurogoh-rogoh
tas mencari ponsel dan kuhubungi murabbiku, beliau bilang karena masalah teknis
ternyata tempat acara pertama kami sore itu pindah ke tempat lain. Aku sempat
bertanya-tanya dalam hati, tak biasanya tempat janjian kami berubah secepat
ini. Tapi sudahlah, aku bergegas mengemudikan motor menuju tempat pertemuan
yang dimaksud. Lima belas menit kemudian aku sampai lokasi, kuparkir motor pelan-pelan
dan kuamati motor yang parkir di tempat ini kok banyak sekali tidak seperti
biasa saat halaqah tiap pekan. Daripada semakin banyak pertanyaan yang muncul
dan membuat kepala makin pusing, aku langsung masuk lokasi dan menyapa
teman-teman yang sudah hadir lebih dulu. Ternyata yang datang di majelis ini
bukan saja teman dari satu halaqahku, tapi ada juga beberapa mbak-mbak yang
ngajinya lebih dulu (sebut saja senior). Setelah kuhitung ada lima belas akhwat
yang hadir di majelis ini. Dan, masih saja aku belum tahu jelas hal apa yang
akan dibahas pada pertemuan ini.
Sebelum
acara dimulai, sejenak kami bersenda gurau seperti biasa ala akhwat pada
umumnya. Menanyakan kabar masing-masing ikhwah dan berbincang-bincang santai. Kelompok
halaqahku memang rata-rata dari akhwat usia kuliah tingkat akhir jadi tema yang
dibahas pun seringnya mengenai skripsi yang begitu sulitnya diselesaikan,
masalah pekerjaan, dan ada juga yang curhat mengenai desakan orang tua untuk
menikah.
Tak
terasa jam menunjukkan pukul 17.45 WIB. Kami duduk lesehan melingkar seperti
acara halaqah biasa. Karena hampir maghrib, murabbiku langsung membuka acara
dengan bacaan basmallah. Lalu beliau menyampaikan sedikit kalimat pengantar
perihal mengumpulkan kami sore itu. Katanya, “Ada satu teman antunna di halaqah
ini yang akan menyampaikan sesuatu kepada kalian, silahkan didengarkan dengan
baik dan ambil hikmahnya dari kejadian ini,....”.
Karena
suasana terasa kaku dan mulai tegang kutatap satu-satu wajah teman-temanku.
Kuamati dengan teliti, berharap bisa menterjemahkan raut wajah mereka yang
sama-sama terlihat bingung. Macam-macam pertanyaan berkecamuk di hatiku. Ada
apakah ini?, siapa yang akan menyampaikan sesuatu?, sesuatu apa?. Kuterka-terka
di antara semua teman-temanku, siapa kira-kira yang sedang mengalami masalah.
Namun aku takut su’udzon, akhirnya kutundukkan pandangan dengan pasrah menunggu
suara siapa yang akan terdengar nanti.
Semua
terdiam, suasana hening seketika. Sambil terisak terdengar suara dari ukhti
(sebut saja ukhti A), “Teman-teman, afwan aku telah mengecewakan antunna. Aku
telah menghianati harakah kita. Aku telah menorehkan fitnah dalam dakwah. Aku
telah mengambil keputusan yang berseberangan dengan keyakinanku selama ini. Aku
telah menerima khitbah seorang laki-laki yang bukan dari satu harakah, malah
dia belum aktif ngaji. Sebentar lagi aku akan menikah dengan laki-laki pilihanku
itu. Aku telah memilih jalan yang tidak sesuai jalur harakah kita, maka aku
akan menerima semua konsekuensi yang harus aku tanggung nantinya. Mohon kalian jangan
ikuti langkahku….”. Kurang lebih itulah sepenggal kalimat yang disampaikan ukhti
A kepada kami. Tak kuat menahan tangis, dia menghentikan kalimatnya dan terdiam.
Kebetulan adzan maghrib pun saat itu berkumandang.
Kuhela
nafas dalam-dalam. Entahlah, saat itu otakku terasa panas. Bingung tak bisa berpikir apapun.
Temanku yang begitu aku percaya menjaga hatinya dengan mudahnya berubah.
Sungguh Alloh yang Maha membolak-balikkan hati. Kuteteskan air mata saat itu,
teringat akan kealpaan diri. Kejadian ini merupakan pelajaran besar buat kami. Teman-teman
yang lain pun terlihat sangat terkejut, namun kami hanya saling tatap tak mengeluarkan sepatah katapun.
Setelah adzan
selesai, murabbiku memberikan pengertian kepada kami dengan bijaksana. Beliau
memberikan motivasi supaya kami tetap fokus dalam dakwah dan tidak larut
berlebihan menyikapi kejadian ini. Alhamdulillah suasana acara sudah cukup
stabil walau masih ada sedikit ketegangan.
Kami semua yang menghadiri acara ini merupakan kader yang telah mencapai
tingkat loyal dalam harakah. Sehingga kami telah memahami, ketika terjadi pelanggaran dalam
menapaki alur harakah maka harus dilakukan pengakuan semacam ini sebagai bentuk
pertanggungjawaban seorang kader terhadap harakahnya. Pastinya, pengakuan ini
harus difahami bukan sebagai bentuk jebakan karena loyalitas seorang kader
harus dilakukan atas dasar kesadaran.
Akhirnya acara ditutup dan
dilanjutkan sholat maghrib berjamaah. Sebelum sholat maghrib kuhampiri ukhti A.
Kupeluk dia erat-erat. Dia mengucapkan kata “afwan” dan dia menangis di
pundakku seakan ingin mengeluarkan segala kegalauannya. Kubisikkan kalimat
kepadanya: “Alloh tidak akan memberikan ujian melebihi kekuatan hamba-Nya,
tetaplah berjuang ukhti!”.
Setelah selesai
sholat maghrib ada satu lagi agenda yang harus aku dan teman-temanku datangi
malam ini seperti yang dijanjikan murabbiku yaitu acara kedua. Cepat-cepat kami
meluncur ke lokasi selanjutnya. Biasa, aku pun tidak tahu pasti hal apa yang
akan dibahas di acara kedua ini. Cuaca masih gerimis. Bajuku masih basah karena
kehujanan tadi sore, sungguh
tubuhku kurasakan dingin menggigil. Namun, aku hanya berfikir ingin segera
menyelesaikan semua agenda hari ini dan aku bergegas mempercepat laju sepeda
motorku. Wush…
Waktu hampir isya,
kami sampai di lokasi kedua. Ada lima belas akhwat yang hadir, namun ada
beberapa personil yang berubah dari acara pertama. Sudah kutebak, acara kedua
ini kasusnya sama dengan acara pertama. Sempat salah satu teman membisikkan
kepadaku bahwa ada satu lagi teman kami yang mengalami kasus serupa.
Di luar masih saja
gerimis, dan acara kedua dimulai. Walau tak setegang seperti pada acara pertama,
namun aku rasakan suasana majelis ini tetap terasa mistis bin horor. Kupegang
dengan erat tangan temanku yang duduk disebelahku, berniat saling menenangkan hatinya dan
juga hatiku yang bergemuruh. Kusiapkan hati untuk mendengar pernyataan seorang
ukhti yang akan menyampaikan pengakuannya. Ya, sama. Sama seperti acara
pertama. Temanku satu lagi (sebut saja ukhti B), sambil menangis menyampaikan
kepada kami bahwa dia juga sudah menerima khitbah seorang ikhwan dari harakah
lain. Dan keputusan yang dia ambil pun sama persis
seperti kasus yang pertama yaitu tidak melalui
pertimbangan murabbi. Beberapa kata ia sampaikan, namun suaranya terdengar
tidak begitu jelas. Sudahlah, pikirku. Semakin banyak kalimat yang dia
sampaikan, akan semakin banyak hati yang tersakiti.
Acara kedua
selesai dengan cepat. Tak banyak hal yang terjadi saat itu. Kami saling diam. Kuhela
nafas, berharap kekecewaan yang aku rasakan saat itu enyah seketika. Kuingin
segera pulang ke kos menenangkan diri. Butuh waktu lama untuk mengobati luka
ini. Dua hal yang sama terjadi secara bersamaan membuat kami sangat terpukul. Bagi
seorang aktivis seperti kami, kejadian ini merupakan ujian dan pelajaran
berharga. Kami berharap semoga kejadian ini bisa menjadi bahan evaluasi bagi
harakah kami, mengenai sistem
tarbiyah maupun sistem
amniah perjuangan.
Aku
teringat sebuah kalimat yang dikirim seorang teman melalui sms kepadaku,
bunyinya: “Yang
berguguran di jalan dakwah, akan menjadi sampah sejarah”.
Sungguh itu bukan hal yang sepele di mata kami. Dan teringat penggalan sebuah hadits Nabi saw: ”Barangsiapa yang berhijrah karena dunia yang akan ia peroleh atau
wanita yang hendak dinikahinya, maka ia akan mendapati apa yang ia tuju.”
(HR. Buhari-Muslim). Hadits ini mengingatkanku untuk selalu berdoa, semoga kami
istiqomah memegang panji perjuangan dan lulus uji dari segala macam fitnah.
Bagi ikhwah yang
sudah loyal di satu harakah, hendaknya memahami bahwa dalam berharakah dituntut
untuk bisa mentaati aturan organisasi (harakah tersebut). Karena mentaati
pimpinan dan ikut serta berjuang dalam dakwah adalah suatu keharusan bagi
seorang aktivis. Pun, ketika ada harakah yang sangat ketat dalam aturannya mengenai
aturan perjodohan itu bukanlah tanpa tujuan. Jika aktivis suatu harakah menikah
dengan aktivis dari harakah yang sama, diharapkan jumlah kader akan semakin
bertambah. Dengan pola membiakkan keluarga, sebuah harakah berharap kadernya
tidak terpencar-pencar sehingga mampu menghimpun kekuatan yang stabil.
Akhirnya,
selamat jalan kedua temanku. Dalam hidup, memang banyak pilihan. Dan semua
pilihan hidup pasti mempunyai resiko. Kisah ini
tidak bermaksud untuk memojokkan pihak tertentu. Namun, banyak ilmu yang aku
peroleh dari kejadian ini. Semoga kisah ini bisa dijadikan sebagai bahan untuk saling mengingatkan dalam kesabaran dan
saling mengingatkan dalam kebenaran. Serta sebagai bahan evaluasi untuk kita
dan dapat diambil ibrahnya. Aamiin.. Wallahu’alam bissowab
Tidak ada komentar:
Posting Komentar